Ilovebiologi's Blog

Penyembuhan Patah Tulang

Mekanisme seluler yang terlibat dalam penyembuhan fraktur sangat berkaitan dengan proses penyembuhan jaringan yang lain, walaupun terdapat modifikasi sesuai dengan keadaan lingkungan tulang tertentu. Bila sebuah tulang patah, matriks tulang rusak dan sel-sel tulang yang berdekatan dengan fraktur akan mati. Segera setelah terjadi fraktur, akan terjadi perdarahan dalam tulang karena sobeknya pembuluh darah dalam sumsum tulang dan juga di sekeliling tulang yang berhubungan dengan periosteum. Timbulnya hematoma pada tempat fraktur memberikan fasilitas penyembuhan karena merupakan landasan pertumbuhan sel. Terdapat pula fragmen tulang yang mati, dan mungkin disertai kerusakan jaringan lunak sekitarnya. Jadi, tahap awal penyembuhan adalah pembuangan jaringan nekrotik dan organisasi hematom. Selama perbaikan, bekuan darah, sel-sel dan matriks tulang yang rusak dibersihkan oleh makrofag. Periosteum dan endosteum di sekitar daerah fraktur memberikan respon berupa proliferasi hebat dari sel-sel osteoprogenitor, yang membentuk jaringan selular disekeliling fraktur dan menyusup di antara ujung-ujung fraktur tulang itu.

Kemudian dibentuk tulang muda melalui proses osifikasi endokondral dan fragmen tulang rawan kecil yang muncul dalam jaringan ikat fraktur. Tulang juga dibentuk melalui proses osifikasi intramembranosa. Karenanya secara bersamaan ditemukan di daerah-daerah tulang rawan, osifikasi intramembranosa, dan osifikasi endokondral pada daerah fraktur.
Organisasi hematom berlangsung secara khusus yaitu pecahnya kapiler disertai fibroblast dan osteoblast yang membentuk pola tulang sebagai suatu anyaman yang tidak teratur. Massa tulang baru yang kadang-kadang mengandung pulau-pulau tulang rawan, disebut kalus (callus). Kalus yang terdapat di dalam rongga medulla disebut kalus internal, sedang yang berhubungan dengan periosteum disebut kalus internal. Kalus eksternal berfungsi sebagai penyangga, walaupun nantinya akan diresorpsi. Tulang yang berbentuk seperti anyaman ini selanjutnya akan diganti oleh tulang yang susunannya lebih teratur dan berlamel, model tulang ini secara bertahap akan mengalami perubahan berdasarkan tekanan mekanis yang dialaminya.
Tulang berbentuk anyaman ini selanjutnya diganti dengan tulang yang berlapis-lapis (lamellar) yang bentuknya lebih teratur, dan akhirnya akan mengalami perbaikan bentuk perlahan-lahan sesuai dengan beban mekanik. Jaringan tulang primer dari kalus secara berangsur diserap dan diganti dengan tulang sekunder, memulihkan struktur tulang asli.

GANGGUAN PENYEMBUHAN TULANG

Berbagai faktor dapat menghambat, atau bahkan menghentikan penyembuhan tulang, yaitu :
1. Pergerakan
Pergerakan antara kedua ujung tulang, selain menimbulkan nyeri, juga berakibat terjadinya kalus yang berlebihan dan menghalangi atau memperlambat proses penyatuan jaringan. Apabila berlanjut, pergerakan ini akan menghalangi pembentukan tulang dan diganti dengan jaringan ikat kolagen, sehingga akan terbentuk sendi palsu pada tempat fraktur. Pergerakan yang lebih ringan akan menyebabkan pembentukan kalus yang berlebihan sehingga membutuhkan waktu yang lebih
lama untuk diresorpsi dan menekan bangunan-bangunan disekitarnya.

2. Jaringan lunak yang ada di antara kedua ujung tulang
Jaringan lunak yang terselip di antara kedua ujung-ujung tulang yang patah, selama belum dapat disingkirkan akan menghambat penyembuhan dan menimbulkan risiko tidak terjadi penyatuan.

3. Ketidaklurusan letak tulang
Kedudukan kedua ujung tulang yang tidak tepat akan menghambat kecepatan penyembuhan dan mengganggu fungsi tulang, sehingga meningkatkan risiko timbulnya penyakit degenerative pada sendi didekatnya (osteoarthrosis).

4. Infeksi
Infeksi yang terjadi di tempat fraktur akan menghambat kecepatan penyembuhan dan memudahkan timbulnya osteomielitis kronis. Infeksi ini mudah terjadi apabila kulit penutup tempat fraktur itu ikut sobek. Kondisi ini disebut compound fracture.

5. Penyakit tulang yang sudah ada sebelumnya
Apabila tulang yang patah itu tidak normal, patah tulang itu disebut fraktur patologis. Tulang seperti ini dapat mengalami fraktur oleh daya tekan ringan yang tidak cukup untuk menimbulkan fraktur pada tulang normal, atau patah secara spontan. Patah tulang patologis ini dapat terjadi akibat kelainan primer tulang, atau kelainan sekunder tulang akibat penyakit lain, misalnya metastasis karsinoma. Pada umumnya fraktur patologis ini akan sembuh secara memuaskan, tetapi kadang-kadang diperlukan dulu pengobatan terhadap kelainan yang melatarbelakanginya.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN
1. Umur
Penyembuhan luka berlangsung cepat pada anak-anak sehat dan fraktur akan menyambung lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa. Fisiologik usia lanjut belum dimengerti dengan jelas, tetapi setidak-tidaknya diketahui terdapatnya satu sifat yaitu berkurangnya kemampuan untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Dalam hal tulang, maka tulang gagal mempertahankan kekuatannya.

2. Gangguan nutrisi
Penyembuhan luka sangat dipengaruhi oleh kemampuan untuk mensintesis protein dan kolagen. Hal yang kedua tergantung pada vitamin C untuk hidroksilasi proline sebagai suatu tahap dalam sintesis kolagen. Skorbut (defisiensi vitamin C) menyebabkan kemampuan penyembuhan luka sangat berkurang, kapiler juga menjadi rapuh sehingga mudah timbul peradangan.

3. Gangguan neoplasia
Fraktur patologis akibat deposit hasil metastasis tumor sulit sembuhnya, kecuali tumornya diobati lebih dahulu. Dalam prakteknya, pengelolaan sering berupa radiasi pada tumornya serta fiksasi interna dari tulang panjangnya.
4. Pengobatan steroid
Steroid mengganggu penyembuhan dengan cara mempengaruhi pembentukan jaringan granulasi dan karenanya terjadi pengerutan luka.

5. Diabetes mellitus dan imunosupresi
Baik diabetes mellitus maupun imunosupresi meningkatkan kemampuan terhadap infeksi oleh organisme yang virulensinya rendah, dan menyebabkan penderita mendapatkan risiko lebih untuk menderita kerusakan jaringan. Diabetes mellitus juga dapat mempengaruhi fungsi polimorf, dan dapat pula terjadi penutupan pembuluh darah kecil dan menyebabkan neuropati.

6. Gangguan vaskuler
Berkurangnya pasokan vaskuler berakibat pada hambatan penyembuhan. Ini terjadi karena adanya hipoksia dan berkurangnya makanan local yang berakibat penyambuhan dan pertumbuhan kembali jaringan yang lebih buruk.

7. Denervasi
Pasokan saraf yang baik akan mendukung integritas struktural dan fungsional suatu jaringan. Disamping itu saraf berperan dalam memperantarai respons radang, yang merupakan sebagian mekanisme tubuh untuk membatasi pengaruh cedera. Jaringan yang mengalami denervasi akan menjadi rusak berat, mungkin akibat dari gabungan abtara kekurangan respons terhadap trauma ringan yang berulang, dan kekurangwaspadaan terhadap infeksi yang berulang atau peradangan.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: